investigasiindonesia.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui Dinas Pertanian tengah merancang sebuah terobosan besar yang bisa mengubah wajah perekonomian daerah. Dengan memanfaatkan lahan di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Timur, budidaya tanaman porang akan digenjot untuk mendukung operasional pabrik pengolahan porang yang segera beroperasi di Desa Pringgabaya Utara.
Lalu Fathul Kasturi, Plt. Kepala Dinas Pertanian Lombok Timur, menyampaikan optimisme besar akan proyek ini. “Kami sedang mempersiapkan surat permohonan izin pemanfaatan lahan hutan kemasyarakatan (HKM) kepada Gubernur dan KPH Rinjani Timur. Ini langkah strategis untuk menjamin pasokan bahan baku pabrik sekaligus memberdayakan petani lokal,” ujarnya dengan penuh semangat.
Porang, tanaman umbi-umbian yang tumbuh subur di daerah lembab, dinilai sebagai komoditas potensial untuk dikembangkan di kawasan hutan. Saat ini, produksi porang lokal hanya mampu memenuhi 10% dari total kebutuhan pabrik yang mencapai 80 ribu ton per hari. Akibatnya, Lombok Timur masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama Jawa. “Dulu porang kita diekspor ke Jawa, sekarang kita ingin mandiri dengan pabrik sendiri,” tambah Kasturi.
Beberapa wilayah seperti Lendang Nangka Utara, Pengadangan, Sapit, Mekarsari (Suela), dan Sembalun Sajang disebut memiliki potensi besar untuk pengembangan porang. Namun, tantangan utama adalah keterbatasan benih bersertifikat. “Kami sedang menjajaki kerja sama dengan penyedia benih di Jawa dan Lombok Utara untuk memastikan kualitas bibit,” jelasnya.
Dengan 400 hektare lahan siap tanam, pemerintah berharap kelompok tani porang yang sempat vakum akibat fluktuasi harga bisa bangkit kembali. Adanya jaminan pasar dari pabrik lokal menjadi angin segar bagi petani. “Dulu harga anjlok bikin petani mundur. Sekarang, dengan pabrik yang siap menyerap hasil panen, mereka bisa lebih percaya diri,” kata Kasturi.
Porang memiliki siklus panen relatif singkat, yakni enam bulan dengan potensi hasil hingga 40 ton per hektare jika menggunakan benih unggul. Kasturi menekankan pentingnya pengelolaan yang tepat agar umbi yang dihasilkan optimal. “Target kami adalah memaksimalkan lahan KPH Rinjani Timur. Jika semua berjalan lancar, porang bisa menjadi tulang punggung ekonomi baru bagi masyarakat Lombok Timur,” tutupnya dengan senyum penuh harapan.
Inisiatif ini tidak hanya tentang peningkatan produksi pertanian, tetapi juga tentang kemandirian ekonomi dan pemberdayaan petani. Jika terwujud, Lombok Timur bisa menjadi contoh sukses transformasi pertanian berbasis komoditas unggulan.


















