investigasiindonesia.com – Kabar mengejutkan datang dari Malaysia. Menteri Ekonomi Rafizi Ramli memutuskan mundur dari jabatannya setelah kalah dalam pemilihan internal Partai Keadilan Rakyat (PKR). Langkah ini ia ambil sebagai bentuk penghormatan terhadap proses demokrasi, di mana kekalahan dalam kontestasi partai dianggap sebagai sinyal untuk memberi kesempatan kepada pemenang.
Rafizi, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden PKR, harus mengakui keunggulan Nurul Izzah Anwar, putri Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Dengan perolehan suara hampir 10.000, Nurul Izzah unggul jauh dibandingkan Rafizi yang hanya meraih sekitar 4.000 suara.
Dalam pernyataan resminya, Rafizi menegaskan bahwa kekalahan ini menghilangkan mandatnya untuk melanjutkan peran di pemerintahan. “Sejalan dengan praktik demokrasi yang sehat, seorang pemimpin yang kalah harus memberi jalan bagi pemenang,” ujarnya. Pengunduran dirinya akan efektif mulai 17 Juni 2025, meski belum ada pengumuman resmi mengenai penggantinya.
Pertarungan sengit antara Rafizi dan Nurul Izzah sempat memicu sorotan. Kritik bermunculan terkait isu nepotisme, mengingat Nurul Izzah adalah anak dari Anwar Ibrahim, yang tidak hanya menjabat sebagai perdana menteri tetapi juga ketua umum PKR. Namun, Anwar membantah keras tuduhan ini, menegaskan bahwa proses pemilihan berjalan adil dan transparan.
Nurul Izzah sendiri bukan nama baru di panggung politik Malaysia. Sejak ayahnya dipenjara pada akhir 1990-an, ia aktif memperjuangkan reformasi. Kariernya sebagai anggota parlemen selama tiga periode membuktikan dedikasinya dalam mendorong transparansi dan perubahan.
Langkah Rafizi mengundurkan diri dinilai sebagai sikap elegan yang menjaga stabilitas politik Malaysia. Meski meninggalkan kabinet, warisannya dalam kebijakan ekonomi tetap menjadi catatan penting. Kini, perhatian beralih pada siapa yang akan menggantikannya dan bagaimana dinamika PKR ke depan pasca-pergantian kekuasaan internal ini.


















