banner 728x250

Fenomena “Open BO” Pelajar Mencengangkan, Kakak Jual Adik Kandung Hingga Hamil, Generasi Emas Terancam!

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Di tengah gemerlap Kota Mataram, sebuah realitas kelam mengintai generasi muda. Kasus open booking (open BO) di kalangan pelajar bukan lagi isu tersembunyi, melainkan ancaman nyata yang merusak moral anak-anak. Yang lebih mengejutkan, praktik ini tidak hanya melibatkan transaksi antar-teman, tetapi sudah merambah ke lingkup keluarga—seperti kasus kakak yang tega menjual adik kandungnya sendiri hingga korban yang masih berusia 14 tahun harus menanggung beban kehamilan dan persalinan dini.

Komisi IV DPRD Kota Mataram angkat bicara. Nyanyu Ernawati, Sekretaris Komisi IV, menyebut fenomena ini sebagai pekerjaan rumah bersama yang harus segera dituntaskan. “Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan kita semua. Anak-anak butuh kasih sayang, pengawasan ketat, dan pemahaman benar tentang teknologi,” tegasnya.

banner 325x300

Nyanyu menjelaskan, perkembangan gadget dan media sosial memperparah situasi. Anak-anak kini mudah terpapar konten dewasa dan terjerat dalam circle pertemanan berbahaya. “Mereka punya kelompok sendiri, seperti bestie, dan justru di situlah praktik ini menyebar,” ungkapnya.

Lebih miris lagi, Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram menemukan fakta bahwa banyak pelaku dan korban berasal dari keluarga broken home. “Mereka yang ditinggal orang tua, minim pengawasan, akhirnya mencari pelarian salah,” papar Ketua LPA, Joko Jumadi.

Beberapa pelajar bahkan sudah terjaring dalam operasi kepolisian. Namun, penegakan hukum saja tidak cukup. “Kami sedang bekerja sama dengan kelurahan, sekolah, dan orang tua untuk memutus mata rantai ini,” tandas Nyanyu.

Pendampingan intensif bagi anak korban broken home.
Edukasi literasi digital untuk mencegah penyalahgunaan teknologi.
Sosialisasi gaya hidup sehat agar pelajar tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.
“Generasi emas kita sedang diuji. Jangan saling menyalahkan, tapi bergerak bersama menyelamatkan mereka,” seru Nyanyu.

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi semua pihak. Jika dibiarkan, bukan tidak mungkin masa depan Kota Mataram akan diisi oleh generasi yang rapuh secara mental dan moral. Waktunya bertindak—sebelum semuanya terlambat.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *