investigasiindonesia.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menorehkan prestasi gemilang di panggung internasional. Sebanyak 6.000 ton jagung berkualitas asal Kabupaten Sumbawa berhasil menembus pasar Filipina melalui Pelabuhan Badas, mengukuhkan posisi NTB sebagai salah satu pemain kunci dalam industri pangan global. Momen bersejarah ini dihadiri oleh deretan pejabat strategis, termasuk Tenaga Ahli Menteri Pertanian Prof. Hasil Sembiring, perwakilan Badan Pangan Nasional Dr. Saleh, Bupati Sumbawa Syarafuddin Jarot, dan Asisten II NTB Lalu Mohammad Faozal, Senin (23/6).
Kolaborasi apik antara petani jagung Sumbawa dan PT Segar Agro Nusantara sebagai mitra ekspor menjadi kunci sukses terwujudnya langkah besar ini. Bupati Sumbawa, Syarafuddin Jarot, dengan bangga menegaskan bahwa jagung bukan sekadar komoditas, melainkan tulang punggung perekonomian masyarakat. “Padi dan jagung adalah nyawa bagi ribuan keluarga di Sumbawa. Setiap bulir yang diekspor hari ini adalah bukti kerja keras dan ketangguhan petani kami,” tegas Jarot dengan penuh semangat.
Data produksi jagung Sumbawa semakin memperkuat posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Hingga Juni 2024, kabupaten ini telah memanen 267.500 ton jagung dari 60 ribu hektare lahan. Angka ini melanjutkan tren positif dari tahun sebelumnya, di mana Sumbawa sukses memproduksi 715 ribu ton jagung dari 98 ribu hektare lahan. “Tak hanya menjadi penghasil jagung terbesar di NTB, Sumbawa juga penyangga stok nasional. Ini adalah kebanggaan yang harus kita pertahankan,” tambah Jarot.
Prof. Hasil Sembiring, Tenaga Ahli Menteri Pertanian, turut memberikan apresiasi sekaligus tantangan ke depan. “Kunci keberlanjutan ada di produktivitas dan inovasi. Kita harus memastikan setiap hektare lahan tidak hanya menghasilkan lebih banyak, tetapi juga dengan praktik pertanian yang ramah lingkungan,” paparnya. Ia juga mendorong percepatan penyelesaian masalah di lapangan agar tidak menghambat laju ekspor.
Momentum ini menjadi bukti nyata keseriusan NTB dalam mewujudkan visi “NTB Makmur Mendunia”. Asisten II Setda Provinsi NTB, Lalu Moh Faozal, menekankan bahwa potensi jagung NTB masih sangat terbuka lebar. “Kita surplus jagung, dan ini peluang emas untuk memperluas jaringan pasar. Tidak hanya mengandalkan Bulog, tetapi juga menggandeng industri pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah,” jelasnya.
Komitmen hilirisasi jagung juga menjadi fokus Pemerintah Provinsi NTB. Faozal mengungkapkan bahwa Gubernur NTB secara khusus meminta penguatan industri pengolahan jagung. “Kami sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai perusahaan untuk mengubah jagung mentah menjadi produk bernilai tinggi. Ini langkah strategis untuk kesejahteraan petani,” tandasnya.
Ekspor perdana jagung Sumbawa ke Filipina bukan sekadar angka, melainkan cerita sukses tentang bagaimana kerja keras, kolaborasi, dan visi besar mampu mengantarkan produk lokal ke panggung dunia. Dengan semangat ini, NTB siap menulis babak baru dalam peta ekspor komoditas pertanian Indonesia.


















