investigasiindonesia.com – Pemerintah Kota Mataram menggadang-gadang program ambisius: melahirkan 5.000 wirausaha baru dalam lima tahun. Janji politik pasangan H Mohan Roliskana dan TGH Mujiburrahman ini disebut sebagai solusi ajaib untuk menggerakkan ekonomi lokal. Namun, kenyataan berbicara lain. Di tengah tahun pertama, program ini justru mandek tanpa realisasi berarti.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kota Mataram, HM Ramadhani, mengakui bahwa program ini belum berjalan. “Masih dalam tahap perancangan peta jalan,” ujarnya, Rabu (25/6). Padahal, target tahun pertama adalah mencetak 1.000 wirausaha baru.
Ramadhani mengungkapkan, salah satu kendala utama adalah mental pelaku UMKM. Banyak yang memulai usaha karena keterpaksaan ekonomi, bukan passion. “Begitu dapat pekerjaan formal, mereka langsung tinggalkan usaha,” jelasnya. Hal ini membuat data UMKM di Mataram terus berubah-ubah, menyulitkan pencatatan yang stabil.
Untuk mengubah pola pikir ini, Pemkot Mataram berencana menggandeng berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memberikan pelatihan intensif. “Ini bukan sekadar soal angka, tapi bagaimana menciptakan mental wirausaha yang tangguh,” tegas Ramadhani.
Meski tertatih-tatih, Ramadhani optimistis program ini bisa terlaksana. Salah satu strateginya adalah bersinergi dengan program pemerintah pusat, seperti Koperasi Merah Putih, yang bisa membantu pemasaran produk UMKM. “Kita juga akan bangun jaringan distribusi antar-UMKM agar saling mendukung,” tambahnya.
Wacana ini mendapat sorotan publik. Sebagian menilai program 5.000 wirausaha baru terlalu muluk tanpa persiapan matang. Namun, Pemkot Mataram bersikukuh akan terus berupaya. “Tahun pertama memang berat, tapi kami yakin bisa mewujudkannya,” pungkas Ramadhani.
Kini, semua mata tertuju pada langkah konkret Pemkot Mataram. Akankah program ini benar-benar terwujud, atau hanya sekadar janji politik yang menguap? Warga menunggu bukti.


















