investigasiindonesia.com – Suasana haru menyelimuti Bandara Internasional Lombok saat pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GIA5412 mendarat mulus pada pukul 01:59 WITA, dini hari tadi (27/6). Pesawat ini membawa pulang Kloter 12, kelompok terakhir jamaah haji asal NTB yang menyelesaikan ibadah di Tanah Suci. Namun, di balik suka cita keluarga yang menyambut, ada empat nama yang belum bisa turun dari pesawat – mereka masih terkatung-katung di rumah sakit Arab Saudi, berjuang melawan radang paru-paru.
“Alhamdulillah, mayoritas jamaah sudah kembali dengan selamat. Tapi, ada empat orang yang kondisinya kritis sehingga harus tetap dirawat di ICU,” ungkap Karyo Gunawan, Kasubag Umum dan Humas Kanwil Kemenag NTB, dengan raut wajah serius.
Keempat jamaah tersebut – asal Dompu, Bima, Lombok Timur, dan Mataram – terpaksa tertahan karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk terbang. Tiga di antaranya bahkan masih bergantung pada ventilator di ruang ICU, sementara satu lainnya sudah sadar namun belum diizinkan dokter untuk pulang. “Jika alat bantu napas dilepas, mereka langsung sesak. Tim dokter di sana masih terus memantau,” tambahnya.
Cuaca Ekstrem Jadi Musuh Utama
Ferry, salah satu petugas Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) yang masih berada di Arab Saudi, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem menjadi pemicu utama komplikasi kesehatan. Suhu di Mekkah dan Madinah kerap menyentuh 40°C lebih, ditambah angin kencang dan debu gurun yang menyiksa paru-paru. “Banyak jamaah yang awalnya hanya batuk pilek biasa, tapi karena faktor usia dan kelelahan, berkembang jadi radang paru-paru berat,” paparnya.
Pihak Kemenag NTB memastikan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan TKHI akan tetap standby di Arab Saudi hingga 10 Juli mendatang untuk mendampingi jamaah yang masih dirawat. “Jika ada perkembangan positif, mereka bisa pulang dengan kloter cadangan. Tapi jika belum memungkinkan, kami akan berkoordinasi dengan Kedutaan RI di Jeddah untuk evakuasi khusus,” tegas Gunawan.
Doa Keluarga Menyambut dari Kejauhan
Sementara itu, keluarga jamaah yang tertahan mengaku pasrah namun tetap berharap mujizat kesembuhan. “Kami sudah dapat kabar dari tim medis bahwa ayah masih sadar tapi belum bisa bicara. Yang penting, dia masih ada tanda-tanda kehidupan,” ujar Siti, putri salah satu jamaah asal Bima, sambil menahan tangis.
Di sisi lain, seluruh jamaah yang telah kembali akan menjalani masa karantina kesehatan selama 21 hari. “Ini prosedur standar untuk memastikan tidak ada risiko penyakit yang terbawa dari perjalanan,” jelas Karyo.
Sebuah Catatan Akhir yang Mengharukan
Kisah empat jamaah NTB ini menjadi pengingat betapa perjalanan spiritual haji bukan hanya tentang kekuatan iman, tapi juga ketangguhan fisik. Di balik gemerlap pesta penyambutan, ada air mata dan doa yang mengalir untuk mereka yang masih terpisah ribuan kilometer dari rumah.
“Kami percaya, setiap jamaah punya takdirnya sendiri. Yang penting, mereka tidak sendirian – tim dokter Indonesia dan Arab Saudi bekerja sama untuk kesembuhan mereka,” tutup Gunawan penuh keyakinan.


















