investigasiindonesia.com – Di tengah tantangan ekonomi global yang kian kompleks, Bank Indonesia (BI) NTB menunjukkan pendekatan yang berbeda. Tidak hanya bicara soal moneter, BI NTB kini tampil sebagai motor penggerak kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekonomi daerah secara menyeluruh—dari sawah hingga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.
“Pembangunan ekonomi tidak bisa parsial. Kami ingin menciptakan ekosistem yang saling terhubung dan saling menguatkan,” tegas Deputi Kepala Perwakilan BI NTB, Andhi Wahyu Riyadno.
BI NTB menerapkan empat strategi utama, yang tidak hanya fokus pada angka pertumbuhan, tapi juga penguatan struktur ekonomi jangka panjang. Mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, penguatan sektor makanan dan minuman, pariwisata, hingga pengembangan UMKM yang berkelanjutan.
Di sektor pertanian, BI NTB tak hanya memberikan dukungan teknis, tapi juga mengembangkan varietas unggul seperti Gamagora 7 di lahan seluas 250 hektare. Ini dilengkapi dengan penerapan teknologi pertanian dan penguatan SDM petani.
Namun yang paling menarik, BI NTB tidak berhenti di hulu. Mereka juga memastikan produk pertanian punya pasar, salah satunya dengan menghubungkan petani dengan industri makanan dan minuman melalui skema investasi kolektif dan business matching.
Sektor pariwisata juga tidak luput dari perhatian. Di tengah geliat KEK Mandalika, BI NTB mendorong insentif dan kebijakan yang pro-investasi, termasuk peningkatan akses antarwilayah agar sektor wisata terhubung langsung dengan pusat-pusat UMKM.
“Ketika wisatawan datang, bukan hanya hotel yang harus untung. Tapi juga petani, pengrajin, pelaku usaha lokal. Inilah yang kami maksud dengan ekosistem terintegrasi,” jelas Andhi.
Sementara itu, UMKM tetap menjadi fondasi penting. BI NTB memfasilitasi sertifikasi ekspor, pendampingan bisnis, hingga akses pembiayaan. Harapannya, UMKM NTB tak hanya berjaya di pasar lokal, tapi juga mampu bersaing secara global.
Pemerhati ekonomi dari Universitas Mataram, Taufiq Chaidir, menegaskan pentingnya sinergi dalam menyukseskan pendekatan ini. Menurutnya, strategi BI NTB hanya akan berhasil jika ada kerja sama erat antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga pendukung lainnya.
“Ekonomi daerah akan tangguh jika semua elemen saling mengisi. Ini bukan soal program satu lembaga saja, tapi soal arah bersama,” ujarnya.
Dengan pendekatan holistik ini, BI NTB tak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tapi juga menyusun fondasi ketahanan jangka panjang. Membangun dari akar, agar NTB bisa tumbuh kuat—dan berdaya saing.


















