banner 728x250

Petani NTB Diimbau Hindari Tanam Palawija, Padi Jadi Pilihan Utama

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Nusa Tenggara Barat (NTB) mengeluarkan imbauan resmi kepada petani agar menghindari penanaman palawija dalam beberapa bulan ke depan. Penyebabnya, kondisi cuaca yang tidak menentu dengan fenomena kemarau basah dinilai terlalu berisiko bagi tanaman seperti tembakau dan bawang.

Kepala Distanbun NTB, Taufiek Hidayat, menjelaskan bahwa curah hujan yang tidak teratur dapat mengganggu pertumbuhan palawija. Tanaman seperti tembakau dan bawang membutuhkan pasokan air yang terkendali, sementara kondisi saat ini justru rawan genangan. “Kami tidak merekomendasikan petani menanam palawija sekarang. Jangan sampai sudah susah payah menanam, tapi gagal panen,” tegasnya.

banner 325x300

Sebagai solusi, Distanbun NTB mendorong petani beralih ke padi yang lebih tahan terhadap kondisi basah. “Padi jauh lebih aman dan sesuai dengan cuaca saat ini. Kami ingin meminimalisir kerugian petani,” ujar Taufiek.

Lahan Rawan Genangan Jadi Tantangan Utama
Mayoritas petani tembakau dan bawang di NTB menggunakan lahan baku sawah (LBS) yang rentan tergenang saat hujan lebat. Data menunjukkan, sekitar 39 ribu hektar lahan tembakau dan 19 ribu hektar lahan bawang di NTB berada di area berisiko tinggi.

Taufiek menegaskan, jika petani tetap ingin menanam palawija, mereka harus memastikan sistem drainase berfungsi optimal. “Harus ada pematang dan saluran air yang baik agar tidak terjadi genangan. Mitigasi risiko wajib dilakukan,” tambahnya.

Laporan Kerusakan Mulai Masuk, Pemerintah Fokus pada Padi
Sejauh ini, Distanbun NTB telah menerima beberapa laporan kerusakan tanaman akibat cuaca ekstrem. Namun, data masih dalam proses verifikasi. “Kami sedang mendata untuk memastikan seberapa besar dampaknya,” kata Taufiek.

Meski demikian, pemerintah tidak terlalu khawatir karena tembakau dan bawang bukan komoditas pangan utama. “Ini tanaman ekonomi, bukan pangan strategis. Jadi, kami lebih mendorong petani beralih ke padi,” jelasnya.

Kemarau Basah Diprediksi Berlanjut
Kepala Stasiun Klimatologi Lombok Barat, Nuga Putrantijo, membeberkan bahwa Juli biasanya merupakan puncak musim kemarau. Namun, tahun ini berbeda. “Ada dinamika atmosfer yang menyebabkan potensi hujan sedang hingga lebat di NTB. Ini perlu diwaspadai,” ujarnya.

Dengan kondisi ini, pilihan terbaik bagi petani adalah menyesuaikan pola tanam. Padi dinilai sebagai solusi paling aman untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah ketidakpastian cuaca.

NTB #Pertanian #CuacaEkstrem #Petani #Padi

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *