investigasiindonesia.com – Puluhan petani tembakau di Lombok Tengah menatap ladang mereka dengan perasaan was-was. Daun-daun yang seharusnya hijau segar kini menguning dan layu, terendam air hujan yang terus mengguyur. Fenomena kemarau basah yang melanda wilayah ini mengancam hasil panen, berpotensi merugikan petani hingga miliaran rupiah.
Muklilah, seorang petani di Desa Lelong, mengeluh. “Lihat saja, daunnya sudah kuning dan lemas setelah tergenang air semalaman,” ujarnya dengan suara lirih. Ia khawatir tembakaunya tidak akan laku di pasaran jika kualitas terus menurun. Proses pengeringan yang bergantung pada sinar matahari pun terhambat, membuat hasil akhir tidak maksimal.
Di Desa Dahe, cerita serupa terdengar. Nurati, seorang petani di Dusun Senayan, mengaku hampir ribuan hektare tanaman tembakau di daerahnya mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. “Air hujan sampai menggenang tinggi, hanya pucuk daun yang terlihat,” katanya. Meski sudah diberi obat dan vitamin, ketidakpastian cuaca membuat usaha penyelamatan terasa seperti melawan takdir.
Harga tembakau yang anjlok menjadi mimpi buruk bagi petani. Jika kondisi ini berlanjut, kerugian tidak bisa dihindari. “Kalau tidak bisa diselamatkan, harga pasti jatuh,” ucap Nurati, berharap pemerintah segera turun tangan.
Kepala Dinas Pertanian Lombok Tengah, M Kamrin, menyatakan kesiapannya membantu. Namun, ia meminta laporan resmi dari petani terlebih dahulu. “Kami butuh data akurat untuk menentukan langkah terbaik,” jelasnya. Saat ini, pihaknya masih mendata luas lahan yang terdampak, dengan dugaan penurunan signifikan dari tahun sebelumnya yang mencapai 14 ribu hektare.
Cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan terbesar. Petani berjuang melawan waktu, berharap langit cerah segera datang sebelum semuanya terlambat. Nasib tembakau Lombok Tengah kini tergantung pada alam—dan seberapa cepat bantuan tiba.


















