investigasiindonesia.com – Pembangunan kereta gantung menuju kawasan Gunung Rinjani terus menunjukkan progres positif. Meski sempat beredar kabar miring tentang mundurnya investor, Pemprov NTB menegaskan bahwa komitmen pihak Tiongkok tetap kuat. Bahkan, perwakilan investor baru saja melakukan pertemuan dengan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB pada pertengahan Juni lalu.
Eva Dewiyani, Kepala DPMPTSP NTB, membenarkan bahwa pembahasan teknis masih berlanjut. “Investor tidak kabur, mereka masih serius menjalankan proyek ini,” tegasnya. Keberadaan kantor perwakilan investor di Gunungsari, Lombok Barat, menjadi bukti nyata kesungguhan mereka.
Sebagai tanda keseriusan, investor telah menyetorkan jaminan sebesar Rp 5 miliar di Bank NTB Syariah sejak groundbreaking proyek pada 2022 silam. Peletakan batu pertama dilakukan di Karang Sidemen, Batukliang Utara, Lombok Tengah, yang menjadi titik awal pembangunan kereta gantung. “Ini bukti komitmen nyata, bukan sekadar wacana,” ujar Eva.
Saat ini, proses pemenuhan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) masih berjalan. Karena proyek ini termasuk dalam skema Penanaman Modal Asing (PMA), wewenang percepatan sepenuhnya berada di pemerintah pusat. “Kami di Pemprov tidak bisa intervensi, tapi terus memantau perkembangan,” jelas Eva.
Meski laporan resmi belum sepenuhnya selesai, DPMPTSP memastikan bahwa minat investor tidak surut. Proyek kereta gantung Rinjani tetap menjadi salah satu agenda strategis yang dinanti, tidak hanya oleh pemerintah, tapi juga masyarakat dan pelaku pariwisata di NTB. Dengan pembangunan ini, akses menuju Rinjani diharapkan semakin mudah, mendongkrak kunjungan wisatawan ke destinasi alam terkenal tersebut.
“Kami optimis proyek ini akan berjalan sesuai rencana,” tutup Eva. Harapannya, kereta gantung Rinjani segera terwujud, membawa manfaat besar bagi ekonomi dan pariwisata Lombok.


















