investigasiindonesia.com – Ketika harga kebutuhan pokok masih belum sepenuhnya stabil dan bayang-bayang inflasi terus menghantui dapur rakyat, pemerintah pusat bersama daerah bergerak cepat. Program Bantuan Pangan (Bapang) kembali hadir di pertengahan tahun ini sebagai bentuk nyata “perisai ekonomi” bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Sebanyak 10.227 ton beras digelontorkan khusus untuk warga Nusa Tenggara Barat (NTB), menyasar lebih dari 511 ribu keluarga penerima manfaat (KPM) di 10 kabupaten/kota. Penyaluran ini bukan hanya aksi kemanusiaan, tapi juga strategi negara menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan harga di pasar.
“Distribusi ini adalah bagian dari kebijakan nasional untuk menekan inflasi pangan, terutama komoditas beras yang sangat sensitif bagi masyarakat bawah,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan NTB, Aidy Furqan, Jumat (18/7).
Penyaluran bantuan dilakukan dengan pendekatan “one shoot delivery” untuk bulan Juni dan Juli, sehingga tiap penerima akan langsung mendapatkan 20 kilogram beras, sekaligus.
Berikut rincian penerima di wilayah NTB:
Lombok Timur mencatat jumlah penerima tertinggi dengan 129.438 KPM,
disusul Lombok Tengah (117.102), dan Lombok Barat (70.126).
Di Kota Mataram sendiri, sebanyak 31.167 keluarga akan menerima jatah bantuan sebanyak 623.340 kg beras.
Yang menarik, Kota Mataram akan menjadi lokasi awal peluncuran bantuan, dimulai Senin (21/7). Penyerahan simbolis dijadwalkan dilakukan oleh Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, sebagai bentuk kehadiran pemerintah dalam merespons dampak banjir beberapa waktu lalu.
Menurut Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, M Suyamto, bantuan ini bersumber dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dijamin kualitasnya. “Seluruh proses distribusi sudah dirancang dengan sistem pemantauan real-time, agar akurat dan transparan,” tegasnya.
Dengan ribuan ton beras yang mulai bergerak, harapannya sederhana tapi kuat: tak ada lagi piring kosong di rumah rakyat.


















