investigasiindonesia.com – NTB tak mau lagi hanya jadi gudang jagung dan ladang hortikultura. Kini, arah pembangunan daerah mulai bergeser ke hulu dan hilir. Kepala Dinas Perdagangan NTB, Jamaluddin Malady, menyuarakan langkah konkret: pembangunan cold storage dan hilirisasi pakan ternak.
Langkah ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan strategi jangka panjang untuk mengubah NTB dari daerah penghasil bahan mentah menjadi motor penggerak industri pangan yang terintegrasi.
“Petani kita terlalu lama dirugikan karena tidak ada fasilitas penyimpanan yang memadai. Sayur dan buah cepat rusak, nilai jual turun. Kita ingin hentikan pola lama itu,” tegas Jamaluddin, Rabu (23/7).
Sebagai mantan Kadis Pariwisata NTB, Jamaluddin memahami pentingnya branding daerah. Menurutnya, produk NTB bisa lebih bernilai jika kualitasnya terjaga sejak panen hingga ke tangan konsumen.
Lebih dari itu, NTB juga ingin naik kelas sebagai pemain industri pakan ternak. Dikenal sebagai salah satu penghasil jagung terbesar nasional, potensi daerah ini dinilai terlalu besar untuk hanya dijual dalam bentuk mentah.
“Bayangkan kalau jagung kita diolah di sini menjadi pakan unggas atau perikanan, berapa banyak nilai tambah yang bisa dinikmati petani dan pelaku usaha lokal,” katanya.
Senada dengan itu, Kepala BPS NTB Wahyudin menambahkan bahwa suplai bahan baku sudah tersedia. Tinggal infrastrukturnya yang perlu didorong. “Kenapa kita terus kirim jagung ke Jawa atau Kalimantan, padahal kita bisa bangun pabrik pakan ternak sendiri? Peternak kita sangat membutuhkannya,” tegasnya.
Saat ini, NTB memang sedang berada di titik krusial. Di satu sisi, punya kekayaan sumber daya pertanian dan peternakan. Di sisi lain, belum memiliki sistem industri yang menopang keberlanjutan ekonomi berbasis pangan.
Langkah ini, jika direalisasikan, bukan hanya menekan kerugian petani akibat post-harvest loss, tapi juga membentuk ekosistem ekonomi lokal yang lebih kuat dan mandiri. NTB tak sekadar mengejar angka pertumbuhan, tapi ingin membangun struktur ekonomi baru—dari desa ke dunia industri.


















