investigasiindonesia.com – Di tengah persiapan Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028, muncul harapan baru dari cabang olahraga yang belum banyak dikenal publik: teqball. Bukan sekadar eksibisi, cabang yang merupakan gabungan antara sepak bola dan tenis meja ini mulai dilirik untuk tampil resmi di ajang olahraga terbesar di Indonesia.
Ketua Pengprov Persatuan Olahraga Teqball Seluruh Indonesia (POTSI) NTB, Ni Ketut Wolini, menyatakan pihaknya telah mengantongi dukungan dari Pengurus Pusat POTSI untuk memperjuangkan agar teqball masuk sebagai cabor resmi PON 2028.
“Kami sudah komunikasi dengan pusat, dan mereka siap membantu penuh. Bahkan saat Kejurnas Teqball 2025 lalu, Ketua Umum KONI Pusat juga memberi sinyal positif,” ungkapnya.
Teqball sebelumnya sudah tampil sebagai cabang eksibisi di PON Aceh-Sumut, menjadi bukti bahwa olahraga ini mulai diperhitungkan secara nasional. Kelebihan utama teqball—yang tidak membutuhkan venue khusus dan biaya infrastruktur besar—jadi nilai tawar tersendiri bagi NTB yang akan menjadi tuan rumah.
“Ini peluang besar. KONI Pusat minta kami segera komunikasi dengan KONI NTB untuk memastikan kesiapan teknis. Tapi secara umum, teqball sangat fleksibel,” tambah Wolini.
Lebih dari sekadar lobi pusat, NTB juga aktif membina atlet. Saat ini sejumlah atlet lokal sedang berlaga di Kejurnas sebagai bagian dari upaya pembinaan jangka panjang menuju PON 2028.
Sekretaris KONI NTB, M. Nur Haedin, menyebut peluang masih terbuka lebar.
“Daftar cabor belum final. Masih ada ruang bagi tuan rumah untuk menambah cabor yang tidak memberatkan secara infrastruktur. Teqball masuk kategori itu,” tegas Haedin.
Dorongan dari daerah kini berpacu dengan waktu dan strategi pusat. Jika berhasil, NTB bukan hanya tuan rumah, tapi juga pionir dalam mengangkat cabor modern ke panggung nasional.


















