investigasiindonesia.com – Di balik sunyinya lorong-lorong Pasar Seni Sayang-Sayang, tersimpan rindu para seniman dan pelaku UMKM yang berharap bisa kembali hidup dari karya mereka. Pasar yang dulunya menjadi etalase kebanggaan budaya Kota Mataram itu kini nyaris lumpuh, ditinggalkan pembeli, dan tak lagi jadi destinasi wisata andalan.
Kini, secercah harapan muncul. Pemerintah Kota Mataram mengusulkan dana sebesar Rp 5 hingga Rp 10 miliar kepada Kementerian Pariwisata RI untuk membangkitkan kembali denyut ekonomi kreatif di sana. “Kami ingin menghidupkan kembali fungsi pasar sebagai pusat karya seni dan aktivitas budaya masyarakat,” kata Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, Cahya Samudra, Jumat (25/7).
Langkah ini bukan semata soal infrastruktur. Revitalisasi yang diajukan menyasar pada transformasi total: dari pasar yang terabaikan menjadi ruang hidup yang interaktif — tempat berkumpulnya seniman, wisatawan, dan warga lokal dalam satu ekosistem seni yang saling menghidupkan.
Saat ini, puluhan lapak UMKM di sana nyaris tak berfungsi. Pandemi, perpindahan bandara, dan minimnya dukungan dari agen travel membuat pasar seolah terputus dari denyut pariwisata Lombok. “Banyak seniman dan pengrajin kami kini hanya bisa berharap, karena tidak ada lagi ruang layak untuk mereka tampil dan menjual karya,” tambah Cahya.
Pemkot Mataram berharap, jika dana ini cair, revitalisasi tak hanya sekadar pembangunan fisik, tapi juga kebangkitan kembali jiwa seni Kota Mataram — dari Sayang-Sayang, untuk Indonesia.


















