investigasiindonesia.com – Di tengah kekhawatiran meningkatnya angka kecelakaan pelajar yang berkendara tanpa SIM, Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Tengah meluncurkan program inovatif: bus sekolah gratis. Program ini tak hanya mempermudah akses siswa menuju sekolah, tetapi juga menjadi langkah nyata menyelamatkan generasi muda dari risiko di jalan raya.
Baru berjalan sejak Senin pekan lalu, program ini sudah mendapat respons positif. Dua unit bus kini beroperasi di jalur Puyung-Biao dan Mujur-Biao, dua rute yang diketahui padat pelajar yang bersekolah di wilayah Praya Tengah.
“Animo anak-anak sangat tinggi. Banyak yang senang karena tidak perlu lagi naik motor sendiri. Ini sekaligus menyelamatkan mereka dari risiko ditilang dan kecelakaan,” ujar Kepala Dishub Lombok Tengah, H. Lalu Herdan, Minggu (27/7).
Menurut Herdan, titik penjemputan telah ditentukan di masing-masing wilayah, seperti Terminal Mujur dan beberapa lokasi strategis di Puyung. Bus akan berangkat pukul 06.30 WITA setiap pagi, dan kembali mengantar siswa pulang usai sekolah.
Lebih dari sekadar transportasi, program ini juga merupakan bagian dari strategi Dishub mendukung Kabupaten Layak Anak (KLA). “Salah satu indikator KLA adalah tersedianya transportasi aman untuk anak. Jadi ini bukan hanya urusan angkutan, tapi bagian dari perlindungan anak secara sistematis,” jelas Herdan.
Dishub menyadari, banyak pelajar yang belum memiliki SIM tetapi tetap membawa sepeda motor ke sekolah, yang kerap menjadi sasaran razia polisi. “Kalau pagi ada razia, banyak siswa yang malah bolos atau telat. Dengan bus sekolah ini, itu bisa kita atasi,” tambahnya.
Selama masa uji coba ini, Dishub akan terus mengevaluasi jalur-jalur dengan permintaan tertinggi, sebelum memperluas layanan ke wilayah lain. Jika hasilnya positif, jumlah bus akan ditambah agar semakin banyak anak bisa menikmati fasilitas ini.


















