banner 728x250

Surga Bernama Gili Tramena, Ramai Turis, Tapi Mampukah Kita Menjaganya?

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Di tengah sorotan terhadap geliat pariwisata pascapandemi, Gili Tramena kembali membuktikan pesonanya sebagai primadona wisata NTB. Dengan tingkat okupansi hotel yang mencapai 90 persen pada Juli ini, kawasan Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) kembali disesaki wisatawan mancanegara. Namun di balik angka-angka yang menggembirakan ini, muncul pertanyaan besar: mampukah lonjakan kunjungan ini berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan budaya lokal?

Ketua Gili Hotels Association (GHA), Lalu Kusnawan, menegaskan bahwa setiap harinya Gili Tramena kedatangan antara 3.000 hingga 3.500 turis asing. “Mayoritas dari ASEAN dan Eropa. Mereka datang untuk menikmati keindahan laut, suasana tropis, dan keramahan lokal,” ujarnya.

banner 325x300

Meski NTB memiliki banyak destinasi unggulan, Gili Tramena tetap menjadi magnet utama. Namun, Kusnawan mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara pariwisata dan pelestarian. “Kita tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga menjual budaya dan alam. Kalau tidak dijaga, lama-lama pesona ini bisa memudar.”

Kusnawan yang juga Ketua IHGMA NTB mengapresiasi langkah Pemprov NTB dalam mendorong konsep pariwisata berkelanjutan. Menurutnya, integrasi aspek lingkungan dan budaya ke dalam strategi pariwisata harus menjadi pondasi, bukan sekadar pelengkap.

“Ini bukan hanya tugas pelaku industri, tapi juga masyarakat, pemerintah, dan wisatawannya sendiri. Edukasi harus terus dilakukan,” tambahnya.

Meskipun NTB tengah menjadi tuan rumah Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII 2025, dampak kegiatan ini tidak terlalu terasa di kawasan Gili. Okupansi tinggi justru lebih terlihat di Kota Mataram sebagai pusat penyelenggaraan.

Data dari BPS NTB menunjukkan, per Mei 2025 sebanyak 8.641 wisatawan asing masuk melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM), naik 10,6 persen dibanding April. Mayoritas berasal dari ASEAN, disusul Eropa dan Asia non-ASEAN.

Namun, pertumbuhan ini juga membawa risiko: peningkatan limbah, tekanan terhadap ekosistem laut, dan potensi konflik sosial akibat eksploitasi budaya lokal. Jika tidak dikelola dengan bijak, pertumbuhan ini bisa menjadi bumerang.

“Ramai bukan berarti aman. Justru ini saatnya kita waspada,” tutup Kusnawan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *