investigasiindonesia.com – Jauh dari hiruk-pikuk kota dan akses pasar modern, warga Desa Dasan Baru, Kecamatan Kediri, Lombok Barat, merasakan langsung kehadiran negara melalui Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar Rabu (30/7). Kegiatan yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini bukan sekadar distribusi sembako murah, tetapi wujud nyata keberpihakan pemerintah pada rakyat kecil di pelosok desa.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, Dr. H. Aidy Furqan, menegaskan, GPM bukan agenda seremonial yang hanya muncul saat hari besar. Ini adalah respons taktis terhadap fluktuasi harga 12 komoditas strategis yang dapat memengaruhi ketahanan ekonomi rumah tangga.
“Kami tidak ingin masyarakat desa menunggu terlalu lama ketika harga naik. Ketika pasar menjauh, negara mendekat,” ujarnya.
GPM di Dasan Baru juga bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-2 Badan Pangan Nasional, yang disambut dengan kegiatan serupa secara serentak di berbagai provinsi. Di NTB, momentum ini dimaksimalkan untuk memperluas jangkauan pelayanan hingga ke kantong-kantong desa dengan akses terbatas.
Tak hanya menjual bahan pangan dengan harga terjangkau, GPM juga menjadi ruang edukasi bagi warga tentang mekanisme harga pasar, sekaligus mengajak mereka menjadi lebih cermat dalam berbelanja.
“Masyarakat bisa bandingkan langsung harga di GPM dan di pasar. Ini bagian dari edukasi ekonomi juga,” tambah Aidy.
Dalam pelaksanaannya, GPM ini melibatkan kolaborasi lintas sektor, termasuk Dinas Ketahanan Pangan Lombok Barat dan Bulog NTB, yang juga aktif memantau stabilitas harga serta pasokan bahan pokok di lapangan.
Kehadiran GPM di Dusun terpencil seperti Dasan Baru menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal stok, tapi juga keadilan distribusi dan keberpihakan pada kelompok masyarakat yang selama ini kerap luput dari perhatian pasar.


















