investigasiindonesia.com – Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (Fornas) VIII yang berlangsung dari 26 Juli hingga 1 Agustus 2025, bukan hanya mencetak prestasi atlet, tetapi juga menciptakan lonjakan ekonomi yang signifikan di Kota Mataram, terutama bagi pelaku usaha perhotelan dan UMKM.
Selama gelaran Fornas, okupansi kamar hotel di Kota Mataram melonjak drastis hingga menyentuh angka 90–100 persen. Lonjakan ini menjadi anugerah tersendiri bagi industri perhotelan yang sempat terpukul pandemi beberapa tahun lalu.
“Selama Fornas, keterisian hotel di atas 90 persen. Ada juga hotel yang full 100 persen,” ujar Rega Fajar Firdaus, Bendahara Asosiasi Hotel Mataram (AHM) sekaligus Direktur Hotel Grand Madani.
Hotel Grand Madani, salah satu yang merasakan langsung efek Fornas, menampung sejumlah kontingen dari Provinsi Banten, Kalimantan Timur, serta beberapa juri nasional. Ini menambah bukti bahwa event olahraga mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi yang jauh dari arena pertandingan.
Menurut AHM, terdapat sekitar 30 hotel anggota dengan total sekitar 2.000 kamar. Jika dihitung bersama hotel-hotel kecil non-anggota, total kapasitas bisa mencapai 5.000 kamar.
Dengan estimasi harga rata-rata Rp 400 ribu per malam dan lama tinggal 3–4 malam, perputaran ekonomi dari sektor perhotelan saja diperkirakan menyentuh angka Rp 3,2 miliar. Angka ini belum termasuk belanja harian para peserta dan pengunjung seperti konsumsi, transportasi lokal, oleh-oleh, hingga jasa laundry.
“Puncak okupansi terjadi tanggal 25–28 Juli, saat sebagian besar kontingen masih bertanding. Malam-malam terakhir mulai menurun karena beberapa peserta sudah pulang,” jelas Rega.
Tak hanya hotel, para pedagang kecil juga merasakan dampaknya. Warung makan, kedai kopi, layanan transportasi online, hingga toko oleh-oleh lokal di kawasan Cakranegara dan Ampenan ramai dikunjungi para peserta dan keluarganya.
“Fornas ini bukan hanya olahraga, tapi benar-benar festival rakyat yang membawa uang masuk ke kantong masyarakat kecil,” ujar salah satu pedagang kaki lima di area sekitar Islamic Center Mataram.
gelaran Fornas VIII membuktikan bahwa event olahraga dapat menjadi strategi pemulihan dan penguatan ekonomi daerah. Bagi Kota Mataram, ini adalah momentum emas yang harus dijadikan pembelajaran untuk menggelar lebih banyak event berskala nasional dan internasional di masa depan.
“Semakin banyak event, semakin banyak orang datang. Kalau kota ini hidup, ekonomi pasti ikut tumbuh,” pungkas Rega.


















