investigasiindonesia.com – Di tengah perlambatan ekonomi global, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) NTB, Berry Arifsyah Harahap, menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan daerah pada sektor tambang, terutama tembaga, yang selama ini menjadi komoditas utama ekspor ke Tiongkok.
Berry menjelaskan, penurunan permintaan global terutama dari Tiongkok telah memukul kinerja ekspor NTB. “Selama ini sebagian besar ekspor kita berupa bahan mentah, seperti tembaga, yang diolah menjadi produk manufaktur di luar negeri. Begitu permintaan turun, dampaknya langsung terasa,” jelasnya, Senin (11/8).
Menurutnya, fluktuasi sektor tambang membuat perekonomian NTB sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Karena itu, diversifikasi ekonomi menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan pertumbuhan yang lebih stabil.
Berry menyoroti konsep potential output sebagai ukuran keberhasilan pembangunan ekonomi yang lebih adil. “Kalau mau melihat kondisi ekonomi secara objektif, jangan hanya melihat naik turunnya output tambang. Kita harus menghitung kapasitas maksimal ekonomi bisa tumbuh tanpa memicu inflasi,” tegasnya.
Saat ini, potential output NTB berada di kisaran 4,5 persen, masih di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5 persen. Penerapan teknologi di berbagai sektor dan pengembangan sektor non-tambang seperti pertanian, pariwisata, dan industri kreatif dinilai bisa mendorong pertumbuhan jangka panjang.
“Dengan pendekatan ini, kita bisa mengurangi risiko akibat gejolak harga tambang dan memastikan ekonomi NTB tumbuh lebih stabil,” pungkas Berry.


















