investigasiindonesia.com – Inflasi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Juli 2025 tercatat sebesar 3,05 persen secara tahunan (year on year) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) 108,93. Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mengungkap, lonjakan harga pangan menjadi motor penggerak utama inflasi, dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda wilayah ini.
Kepala BPS NTB, Wahyudin, menjelaskan bahwa hujan lebat, angin kencang, dan suhu ekstrem telah mengganggu pasokan pangan strategis. “Periode Juli berada di luar musim panen raya padi, sehingga stok beras di pasar menurun. Kondisi ini diperparah dengan curah hujan tinggi dan serangan hama pada tanaman hortikultura,” ungkapnya.
Akibatnya, sejumlah komoditas seperti beras, bawang merah, cabai merah, dan tomat mengalami kenaikan harga signifikan. Sektor perikanan pun tak luput terdampak. Gelombang tinggi dan angin kencang membatasi aktivitas nelayan, sehingga pasokan ikan tongkol berkurang dan harganya meroket di pasaran.
Di luar pangan, tekanan inflasi juga datang dari sektor pendidikan menjelang tahun ajaran baru. Biaya SPP, uang pangkal, dan perlengkapan sekolah di berbagai jenjang mengalami kenaikan. Sementara itu, sektor transportasi turut menyumbang meski dalam skala lebih kecil.
“Inflasi bulan Juli didorong oleh kombinasi faktor musiman dan gangguan iklim. Tekanan terbesar tetap berasal dari kelompok bahan makanan,” kata Wahyudin.
Secara bulanan (month to month), inflasi NTB pada Juli 2025 tercatat 0,17 persen, sementara inflasi sejak awal tahun (year to date) mencapai 1,77 persen. BPS menegaskan, pengendalian harga pangan strategis menjadi kunci menahan laju inflasi di bulan-bulan mendatang, terutama jika cuaca ekstrem masih berlanjut.


















