banner 728x250

Hotel di NTB Tertekan, PHRI Desak Pemerintah Beri Nafas Baru Pariwisata

banner 120x600
banner 468x60

investigasiindonesia.com – Krisis yang membelit sektor perhotelan di Nusa Tenggara Barat (NTB) kini memasuki fase genting. Okupansi rendah yang berkepanjangan membuat sejumlah hotel, khususnya skala kecil dan menengah, terpaksa memangkas tenaga kerja hingga menutup sementara operasional.

Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB, Ni Ketut Wolini, mengungkapkan ribuan pekerja sudah kehilangan pekerjaan sejak 2024. Mayoritas hotel kini hanya bergantung pada karyawan tetap untuk menjaga operasional dasar. Pekerja harian (daily worker) baru dipekerjakan ketika ada acara atau event tertentu.

banner 325x300

“Yang terdampak tidak hanya hotel besar, tapi juga bungalow, losmen, bahkan homestay. Banyak yang hanya buka separuh kapasitas, sebagian terpaksa tutup sementara,” jelas Wolini, Rabu

Selain masalah okupansi, para pengusaha juga terbebani pajak daerah dan aturan pusat, termasuk penerapan royalti lagu di area publik hotel dan restoran. Kondisi ini dianggap tidak sejalan dengan realita bisnis perhotelan yang tengah lesu.

“Kami sangat butuh keringanan pajak. Tapi di sisi lain ada ketakutan karena ancaman denda dan pidana jika tidak dipatuhi. Ini membuat pengusaha resah dan bingung,” tambahnya.

PHRI NTB berharap pemerintah daerah dan pusat tidak hanya menyalurkan empati, tetapi segera memberikan dukungan konkret berupa:

Promosi pariwisata NTB yang lebih masif,

Relaksasi regulasi dan keringanan pajak,

Program pelatihan ulang tenaga kerja perhotelan untuk menyesuaikan model bisnis baru.

Senada, Ketua Indonesia Hotel General Manager Association (IHGMA) NTB, Lalu Kusnawan, mendesak agar persoalan royalti lagu juga menjadi perhatian serius Presiden. Menurutnya, hal ini sudah menjadi polemik panjang yang justru memperburuk iklim usaha.

“Kami butuh kepastian, bukan beban baru. Harapan kami, Presiden langsung turun tangan menata ulang regulasi yang membelit sektor perhotelan,” tegasnya.

Kondisi ini menegaskan bahwa sektor hospitality di NTB sedang dalam “zona merah”. Tanpa langkah penyelamatan segera, bukan hanya hotel yang gulung tikar, tapi juga ribuan tenaga kerja yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata akan semakin kehilangan harapan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *