investigasiindonesia.com – Museum Negeri NTB mendapat kunjungan tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (14/8). Kunjungan ini bukan sekadar riset biasa, melainkan langkah penting dalam memahami makna besar di balik repatriasi artefak bersejarah Lombok yang sebelumnya berada di Belanda.
Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam, menegaskan bahwa penelitian ini merupakan upaya memperkaya kajian ilmiah terhadap benda-benda bersejarah yang telah kembali ke tanah air. “Artefak-artefak tersebut telah menjadi cagar budaya nasional, sehingga kita perlu meneliti secara mendalam baik narasi maupun deskripsinya, termasuk manuskrip lontar yang ikut dikembalikan,” jelasnya, Jumat (15/8).
Belanda sebelumnya telah mengembalikan 472 artefak bersejarah Nusantara, di antaranya 355 koleksi Kerajaan Mataram-Lombok yang kini tersimpan di Museum Nasional. Benda-benda ini dianggap sebagai harta karun Lombok yang memiliki nilai bukan hanya material, melainkan juga sejarah, identitas, dan kebanggaan daerah.
Menurut Yulianti, dosen sejarah Fakultas Ilmu Budaya UGM, repatriasi tidak bisa dipandang semata-mata sebagai pengembalian fisik benda. “Yang lebih penting adalah menggali kesejarahan dan makna dari setiap artefak itu sendiri. Bagaimana keterikatannya dengan masyarakat, serta identitas dari tempat asalnya. Inilah yang sedang kami teliti bersama Museum NTB,” ujarnya.
Lebih jauh, kolaborasi UGM dengan Museum Negeri NTB diharapkan dapat membuka ruang partisipasi komunitas sejarah di Lombok. Dengan demikian, repatriasi bukan hanya mengembalikan benda ke tanah air, tapi juga menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat Lombok atas kejayaan dan perjalanan sejarah mereka.
“Penelitian ini mudah-mudahan memberi informasi yang lebih komprehensif, sehingga repatriasi menjadi pintu masuk untuk memperkuat identitas budaya dan sejarah Lombok,” pungkas Nuralam.


















