investigasiindonesia.com – Gelaran MotoGP Mandalika 2025 di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah, kembali membuktikan bahwa sport tourism bukan hanya soal kecepatan di lintasan, tetapi juga tentang percepatan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Di balik deru mesin dan sorotan dunia, ajang balap internasional ini menjadi katalis bagi tumbuhnya ekonomi rakyat, terutama sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTB, Masyhuri, mengungkapkan, proyeksi perputaran uang dari UMKM selama event berlangsung diperkirakan mencapai Rp500 juta, meningkat dari tahun sebelumnya, meski jumlah pelaku yang terlibat tetap 120 UMKM.
“Proyeksi dari UMKM tahun ini diharapkan meningkat dari tahun lalu sampai Rp500 juta, dengan jumlah UMKM yang sama,” ujar Masyhuri, Minggu (5/10).
Namun lebih dari sekadar angka, Masyhuri menilai MotoGP menjadi laboratorium ekonomi kreatif yang memperkuat daya saing pelaku UMKM NTB di pasar global. Produk lokal kini tampil lebih profesional, dengan kemasan dan branding yang menyesuaikan standar internasional.
“Sektor UMKM sudah menyumbang Rp166 triliun terhadap PDRB NTB, dan ajang MotoGP adalah ruang untuk memperkuat posisi mereka sebagai bagian dari rantai ekonomi dunia,” jelasnya.
Menurutnya, dampak strategis MotoGP tidak hanya pada omzet harian, tetapi juga pada transformasi mindset pelaku usaha kecil agar mampu melihat pasar wisata global sebagai peluang nyata.
“Event seperti MotoGP memberikan pengalaman langsung bagi pelaku UMKM dalam berinteraksi dengan wisatawan mancanegara, memahami selera pasar, serta meningkatkan kualitas produk dan pelayanan,” katanya.
Selain menjadi ajang promosi produk lokal — mulai dari tenun, kopi, hingga kuliner khas Sasak — MotoGP juga memperkuat citra NTB sebagai destinasi sport tourism kelas dunia.
Pemerintah daerah pun diharapkan terus mengoptimalkan kemitraan lintas sektor agar dampak ekonomi tidak berhenti setelah bendera finis dikibarkan.
MotoGP Mandalika, dengan demikian, bukan hanya lomba di lintasan aspal, tetapi juga arena pembuktian bahwa ekonomi lokal NTB mampu berlari cepat mengikuti irama global.


















