investigasiindonesia.com – Di balik lembar-lembar cerpen yang penuh imajinasi, tersimpan kisah nyata tentang semangat dan ketekunan seorang siswa SMA di Lombok Timur. Ia adalah M. Dimas Ibnu Pratama, pelajar SMAN 1 Terara, yang baru saja mengharumkan nama sekolahnya dengan meraih Juara 1 lomba menulis cerpen dalam ajang Lomba Karya Seni (LKS) 2025 tingkat SMA/MA se-Pulau Lombok.
Kompetisi bergengsi yang digelar oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Hamzanwadi itu berlangsung pada 16–23 Oktober 2025, diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai sekolah.
Tahun ini, LKS menampilkan lima cabang lomba utama: menulis cerpen, membaca puisi, mendongeng, reportase, dan tari kreasi. Dari seluruh kategori, sorotan tertuju pada cabang menulis cerpen yang berhasil dimenangkan oleh Dimas, disusul Loja Fortuna (SMAN 1 Sakra) dan Azura Aprilianti (MAN 1 Lombok Timur) di posisi kedua dan ketiga.
Menurut Muhammad Taufiq, Ketua Program Studi PBSI Universitas Hamzanwadi, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang bagi siswa untuk menyalurkan ide, imajinasi, dan ekspresi mereka melalui karya sastra.
“Kami ingin melahirkan generasi yang tidak hanya pandai menulis, tetapi juga mampu berpikir kritis dan kreatif,” ungkapnya.
Bagi SMAN 1 Terara, kemenangan ini bukan sekadar piala, melainkan bukti bahwa semangat literasi di kalangan pelajar masih terus menyala.
“Prestasi Dimas menjadi inspirasi bagi seluruh siswa agar terus berkarya dan menulis dengan hati,” ujar pihak sekolah dengan penuh bangga.
Dimas sendiri dikenal sebagai siswa yang gemar menulis sejak duduk di bangku SMP. Karyanya sering mengangkat tema keseharian dan nilai-nilai kehidupan sederhana di desa. Lewat cerpen yang mengantarkannya meraih juara, ia ingin menunjukkan bahwa dari tempat kecil pun, imajinasi besar bisa tumbuh dan mengubah segalanya.
“Menulis itu seperti berbicara dengan diri sendiri. Setiap kata adalah cermin dari apa yang kita rasakan,” ujar Dimas singkat dengan senyum bangga.
Dengan prestasi ini, Dimas tidak hanya menorehkan tinta emas bagi sekolahnya, tapi juga menjadi simbol bahwa generasi muda Lombok siap menulis kisah mereka sendiri—kisah tentang semangat, mimpi, dan karya yang menginspirasi.


















