investigasiindonesia.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi peserta didik, tetapi juga membawa perubahan besar dalam standar keamanan pangan di dapur penyelenggara. Kepala Satgas MBG NTB, Ahsanul Khalik, menegaskan bahwa peningkatan kualitas dapur dan tenaga penjamah pangan menjadi indikator utama keberhasilan program ini.
Hingga Oktober, sebanyak 350 dari 379 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), atau 92,3 persen, telah mengajukan Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS) ke dinas kesehatan kabupaten/kota. Selain itu, terdapat 29 SPPG baru yang tengah melakukan proses persiapan pengajuan sertifikasi.
“Lonjakan pengajuan SLHS menunjukkan keseriusan penyelenggara dalam memastikan standar keamanan pangan terpenuhi,” kata Khalik, Rabu (29/10).
Dari jumlah tersebut, 127 dapur telah dinyatakan laik higiene, sedangkan 202 dapur telah melalui tahap Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL). Sementara itu, total 4.383 penjamah pangan telah mengikuti pelatihan keamanan pangan, dengan rata-rata 10–12 tenaga terlatih di setiap dapur.
Menurut Khalik, pencapaian ini merupakan hasil kerja bersama antara tim MBG dan jajaran dinas kesehatan di seluruh kabupaten/kota. “Teman-teman di lapangan bekerja setiap hari memastikan proses berjalan sesuai standar,” ujarnya.
Setiap dapur harus memenuhi indikator teknis, mulai dari ketersediaan air bersih, ventilasi, sistem penyimpanan bahan makanan, hingga tata kelola limbah dan kebersihan pekerja. Semua proses diawasi melalui pengujian dan pemenuhan dokumen sesuai ketentuan.
Kepala Dinas Kesehatan NTB, HL Hamzi Fikri, menerangkan bahwa pihaknya terus memperkuat koordinasi dengan puskesmas dalam melakukan pemeriksaan dan penerbitan SLHS. “Kami dorong setiap SPPG segera melengkapi persyaratan, termasuk pemeriksaan kualitas air, lingkungan sekitar, dan uji laboratorium kesehatan,” jelasnya.
Fikri menegaskan bahwa pengawasan mutu dapur merupakan upaya memastikan pangan yang disajikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan higienis. “Ini bagian penting untuk melindungi kesehatan anak-anak penerima manfaat MBG,” ujarnya.


















