DOMPU – Kabupaten Dompu bersiap memasuki babak baru dalam dunia pacuan kuda tradisional. Gelaran Pacuan Kuda se-Pulau Sumbawa di Arena Lembah Kara, Desa Lepadi, Kecamatan Pajo, tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga momentum sejarah menuju penyelenggaraan pacuan kuda yang lebih modern dan ramah anak.
Bupati Dompu, Bambang Firdaus, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan perlindungan hak-hak anak. Sorotan utamanya ialah peran anak sebagai joki yang masih kerap terjadi dalam ajang tradisional.
“Kita bangga dengan warisan pacuan kuda. Tetapi kebanggaan itu tidak boleh mengorbankan masa depan dan keselamatan anak-anak,” tegas Bambang saat rapat bersama Forkopimda, DP3A, Pordasi NTB dan Dompu, LPA, serta unsur terkait, kemarin.
Pemkab Dompu kini fokus mendorong penerapan standar keselamatan dan pembatasan usia joki. Penyesuaian kelas pacuan, penyusunan regulasi resmi, hingga sosialisasi langsung ke masyarakat menjadi langkah awal.
Bupati Bambang menekankan bahwa pacuan kuda tidak harus meninggalkan nilai tradisinya, namun wajib menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan prinsip perlindungan anak.
“Dompu harus menjadi pelopor pacuan kuda yang tertib, aman, dan beradab. Tradisi kita jaga, tapi masa depan anak-anak juga harus dijaga,” katanya.
Bambang juga meminta semua pihak mematuhi Surat Edaran Bupati Dompu Nomor: 100.3.4.1/DP3A-PHA-09/2025 tentang penyelenggaraan pacuan kuda yang melibatkan joki anak. Ia menegaskan, aturan bukan penghalang tradisi, melainkan fondasi modernisasi budaya.
Pordasi Dukung Standarisasi Joki & Keselamatan
Ketua Pordasi Dompu, Abdul Haris, menyatakan komitmen penuh untuk menindaklanjuti kebijakan pemerintah daerah. Pihaknya akan menetapkan batas usia joki, memperketat aturan keselamatan, hingga menyiapkan joki remaja dan dewasa sebagai regenerasi.
“Ini langkah maju. Tradisi tetap hidup, tapi keselamatan anak menjadi prioritas,” ujarnya.
DP3A: Tradisi Harus Adaptif, Keselamatan Anak Nomor Satu
Kepala DP3A Dompu, Abdul Syahid, menegaskan bahwa budaya tidak boleh menjadi alasan membiarkan anak terpapar risiko tinggi.
“Pacuan kuda tetap bisa berlangsung tanpa melibatkan anak sebagai joki. Yang terpenting, semuanya berjalan aman dan manusiawi,” tandasnya.
Pacuan kuda Dompu kini bukan hanya soal kecepatan kuda, tetapi juga kecepatan berpikir dalam menjaga tradisi tetap relevan tanpa mengabaikan hak generasi masa depan.


















