investigasiindonesia.com – Pemerintah Provinsi NTB memperkuat langkah menuju pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau melalui kerja sama strategis dengan Pemerintah Inggris. Kolaborasi ini mencakup energi bersih, inovasi digital, hingga solusi berbasis alam.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kemitraan tersebut selaras dengan Visi Hijau NTB, arah pembangunan nasional dalam RPJMN, serta target Net Zero Emission 2060. Ia menyebut kerja sama ini sebagai bukti posisi NTB sebagai pelopor pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Kedatangan Will Hines, Direktur Pembangunan FCDO Inggris, ke Lombok memperkuat kemitraan kedua pihak. Ia menilai NTB sebagai daerah yang progresif dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon dan menyatakan Inggris bangga mendukung berbagai inisiatif hijau di Indonesia.
Hines meninjau dua program unggulan:
- Proyek Mikrohidro MENTARI – Bendungan Pandanduri
Kemitraan: Inggris, PT SMI, PT Brantas Energi
Fokus: Energi terbarukan skala kecil
Manfaat: Akses energi bersih, lapangan kerja hijau, inklusi sosial
Dukungan: Skema Viability Gap Fund dari Inggris
- Program Blue Innovative Startup Acceleration (BISA)
Pelaksana: Aquabloom & Lombok Research Centre
Inovasi: Mengolah rumput laut Sargassum—yang biasanya dianggap limbah—menjadi pupuk ramah lingkungan
Dampak: Mendukung ekonomi biru dan kewirausahaan lokal
NTB juga mendapat apresiasi karena dinilai unggul dalam penerapan Low Carbon Development Initiative (LCDI) untuk menyinergikan pembangunan daerah dengan target NZE nasional dan RPJMN 2025–2029.
Dukungan Politik Inggris
Duta Besar Inggris untuk Indonesia, Dominic Jermey, menegaskan kemitraan dibangun atas dasar saling menghormati dan tujuan bersama. Menjelang COP30 Brasil, ia menekankan bahwa aksi iklim dan pertumbuhan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Menurutnya, ambisi iklim bukan beban, melainkan pendorong kemajuan kedua negara.


















