investigasiindonesia.com – Di saat pasar modal dunia kembali dihantam ketidakpastian akibat dinamika politik global, Indonesia justru menunjukkan tren berbeda. Ketahanan investor lokal kini dinilai menjadi kekuatan baru yang menahan gejolak pasar. Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) NTB, Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana, menyebut dominasi investor domestik sebagai faktor penting yang menjaga pasar tetap stabil meski dilanda volatilitas.
Menurut Sandiana, kekhawatiran investor terhadap isu politik global memang wajar, namun respons pasar tidak lagi sekeras beberapa tahun lalu. Hal ini karena struktur investor di Indonesia telah berubah, dengan partisipasi ritel meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.
“Ketika isu politik global meledak dan menekan pasar jangka pendek, investor lokal justru menjadi penyeimbang. Mereka tidak mudah overreact terhadap dinamika politik,” ujarnya, Jumat (21/11).
Panik Jadi Peluang
Sandiana menegaskan, tekanan harga saham akibat kepanikan global sering kali membuka ruang akumulasi bagi investor yang tenang dan rasional. Banyak saham berkualitas turun hingga di bawah nilai wajar, memberikan peluang bagi investor jangka panjang.
“Pasar punya kemampuan beradaptasi. Ketika badai mereda, fundamental ekonomi akan kembali menjadi penentu utama,” terangnya.
Diversifikasi, Senjata Penting Hadapi Gonjang-Ganjing Politik
Ia menambahkan, salah satu kunci bertahan dalam gejolak adalah diversifikasi. Tidak menaruh seluruh modal pada satu sektor atau wilayah dinilai bisa mengurangi risiko ketika isu politik global menghantam pasar tertentu.
Instrumen seperti saham, obligasi, reksa dana, hingga ETF dapat menjadi penyeimbang dalam portofolio.
Pemahaman Makroekonomi Kini Wajib
Sandiana mencontohkan, konflik geopolitik yang membuat harga minyak dunia naik dapat memengaruhi nilai tukar Rupiah dan inflasi, mengingat Indonesia merupakan importir minyak. Dampak lanjutan ini kemudian merembet ke kinerja pasar saham.
“Memahami hubungan antarvariabel ekonomi global menjadi bekal bagi investor untuk menilai risiko secara lebih objektif,” tambahnya.
Disiplin dan Literasi Informasi Menentukan
Selain strategi, Sandiana menekankan pentingnya disiplin investasi dan kemampuan menyaring informasi. Era digital membuat rumor mudah beredar, sehingga risiko panic selling semakin besar bagi investor yang tidak kuat secara mental maupun pengetahuan.
“Memiliki rencana investasi yang jelas, lalu disiplin menjalankannya, menjadi tameng dari keputusan emosional,” ujarnya.
Investor Ritel Menguat, Pasar Kian Mandiri
Bursa Efek menilai meningkatnya jumlah investor ritel pascapandemi berpengaruh besar terhadap likuiditas. Kini, pergerakan IHSG tidak lagi sepenuhnya tergantung pada modal asing.
“Ini sinyal positif. Investor lokal semakin menjadi fondasi stabilitas pasar modal Indonesia,” tegas Sandiana.


















