investigasiindonesia.com – Menjelang periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026, kawasan Senggigi tidak hanya mencatat kenaikan okupansi, tetapi juga memasuki fase kompetisi layanan premium. Para pelaku perhotelan memanfaatkan momentum ini dengan memperluas strategi pemasaran dan menawarkan paket akhir tahun yang lebih eksklusif.
Ketua Asosiasi Hotel Senggigi (AHS), Ketut Murta Jaya, mengungkapkan bahwa pola kunjungan wisatawan tahun ini menunjukkan perubahan signifikan. Tidak hanya terjadi peningkatan pemesanan kamar—yang kini sudah melampaui 50 persen untuk Natal dan sekitar 60 persen untuk malam pergantian tahun—namun juga munculnya permintaan terhadap layanan berkonsep pengalaman (experience-based).
“Wisatawan kini tidak sekadar mencari kamar. Mereka mencari pengalaman. Maka hotel-hotel di Senggigi mulai menawarkan paket lengkap seperti buffet dinner, brunch tematik, hingga gala dinner yang menjadi daya tarik utama,” ujar Ketut Jaya.
Beberapa hotel bahkan dilaporkan mencatat reservasi hingga 72 persen untuk Malam Natal. Penawaran paket tahun baru dipublikasikan lebih agresif melalui kanal digital hotel, termasuk media sosial, sistem reservasi daring, hingga kolaborasi dengan travel influencer.
Kenaikan Tarif Jadi Strategi, Bukan Sekadar Respons Demand
Dengan tingginya minat, sejumlah hotel melakukan penyesuaian tarif. Namun menurut AHS, kebijakan tersebut kini lebih dilihat sebagai strategi segmentasi, bukan hanya tanggapan terhadap meningkatnya permintaan.
“Hotel-hotel tidak hanya menaikkan harga, tetapi menyesuaikan benefit yang diterima tamu. Ada peningkatan layanan, konsep acara, hingga personalisasi,” jelasnya.
Kawasan Senggigi sendiri memiliki sekitar 2.300 kamar dari berbagai kelas. Hotel butik masih menjadi favorit wisatawan mancanegara, sementara resor besar menjadi tujuan campuran antara wisatawan domestik dan internasional.
Puncak Kedatangan Mulai 21 Desember
AHS memprediksi lonjakan tertinggi terjadi pada 21 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026. Pada periode ini, hampir seluruh hotel menerapkan sistem tarif bertingkat yang berubah mengikuti tingkat keterisian kamar.
Tren positif ini membuat pelaku industri optimistis kinerja perhotelan Nataru tahun ini akan melampaui tahun sebelumnya. “Ini momentum bagi pemulihan industri perhotelan dan pariwisata NTB. Kami berharap okupansi bisa tembus di angka lebih tinggi dari tahun lalu,” pungkas Ketut.


















