investigasiindonesia.com – Dorongan industrialisasi sektor kelautan semakin menguat di Nusa Tenggara Barat (NTB) setelah Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB menggelar Forum Perangkat Daerah Pembangunan Kelautan dan Perikanan Tahun 2025 di Mataram, kemarin. Forum ini tidak hanya menjadi ruang sinkronisasi kebijakan pusat dan daerah, tetapi juga menjadi momentum percepatan transformasi ekonomi biru yang kini menjadi fokus nasional.
Kegiatan tersebut turut diikuti perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara virtual, serta sejumlah perangkat daerah, termasuk Dinas PMPTSP NTB. Kepala DKP NTB, Muslim, menegaskan bahwa arah pembangunan kelautan harus tidak lagi sekadar berorientasi program tahunan, tetapi diarahkan pada penguatan nilai tambah dan industrialisasi sumber daya laut.
“Sinkronisasi kebijakan perlu terus diperkuat agar program daerah tidak hanya relevan, tetapi juga menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan sesuai target nasional,” ujarnya.
Kampung Merah Putih jadi Fokus Ekspansi 2026
Salah satu topik strategis yang dibahas adalah pengembangan Kampung Merah Putih, program unggulan yang dipersiapkan untuk diperluas hingga 2026. NTB telah mengusulkan 31 desa sebagai calon lokasi, meskipun beberapa masih membutuhkan penyempurnaan administrasi.
Pemerintah pusat menargetkan terbentuknya 1.000–2.000 kampung pada 2026, dan NTB diyakini memiliki peluang kuat untuk memperoleh setidaknya 40 lokasi berkat besarnya potensi kelautan dan sosial masyarakat pesisir.
Saat ini, pelaksanaan fisik program berlangsung di tiga titik: Bandung (Jawa Tengah), Lombok Timur, dan Pulau Bungin di Kabupaten Sumbawa.
Garam dan Tuna Jadi Motor Industrialisasi
Forum juga menyoroti penguatan produksi garam nasional yang diharapkan dapat selaras dengan kebutuhan industri dan pasar. Muslim menekankan pentingnya pemetaan kebutuhan daerah agar program nasional tidak berjalan parsial.
Tak hanya garam, NTB juga mulai mencatat kemajuan signifikan di sektor industrialisasi perikanan. Muslim memaparkan keberadaan perusahaan pengolahan tuna asal Amerika Serikat yang kini beroperasi di Lombok Timur sebagai bukti nyata daya tarik investasi kelautan NTB.
“Produk tuna dari NTB telah menembus pasar internasional. Ini menunjukkan bahwa potensi kelautan kita tidak hanya besar, tetapi juga mampu bersaing secara global,” tegasnya.
Forum ini diharapkan menjadi pijakan penting untuk merumuskan arah pembangunan kelautan tahun 2026, sekaligus memperkuat posisi NTB sebagai pusat pertumbuhan ekonomi biru nasional.


















