investigasiindonesia.com – Upaya percepatan hilirisasi industri ayam terintegrasi di Nusa Tenggara Barat kembali ditegaskan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal. Namun berbeda dari wacana sebelumnya, kali ini Gubernur menempatkan pemetaan logistik dan ketersediaan lahan sebagai dua fondasi paling krusial sebelum industri ayam skala provinsi benar-benar dapat berjalan.
Iqbal menilai NTB memiliki potensi besar dalam pengembangan peternakan unggas, namun tanpa kepastian jalur distribusi dan kesiapan wilayah, upaya hilirisasi hanya akan berjalan setengah hati.
“Ekosistem itu tidak hanya kandang dan pakan. Kita bicara rantai pasok, kemampuan serap produksi lokal, dan kemudahan logistik. Itu yang ingin kita rapikan dahulu,” tegas Gubernur Iqbal, kemarin.
Dinas Kabupaten/Kota Diminta Bergerak Cepat
Gubernur menginstruksikan seluruh dinas terkait di tingkat kabupaten/kota untuk segera memetakan wilayah masing-masing. Mulai dari kecocokan lahan untuk kandang, area produksi pakan, hingga ketersediaan bahan baku.
“Setiap daerah harus membawa data yang kuat. Ada tanah sekian hektare cocok untuk peternakan? Mana lokasi yang relevan untuk produksi pakan? Semuanya harus berbasis alasan teknis,” ujar Iqbal.
Langkah itu disebut penting untuk menghindari tumpang tindih dan memastikan bahwa hilirisasi berjalan dengan arah yang jelas.
Logistik Jadi Penentu Efisiensi
Iqbal menekankan bahwa kajian jalur logistik merupakan kunci agar industri ayam di NTB bisa bersaing secara ekonomi. Tanpa akses distribusi yang efektif, biaya produksi akan membengkak dan melemahkan daya saing peternak lokal.
“Supply chain dan transportasi itu harus memungkinkan. Kita ingin pembangunan industri ini juga menjadi alat untuk mendorong pembelian hasil lokal,” jelasnya.
Dorong Terbentuknya Ekosistem Terintegrasi
Melalui kolaborasi antar-daerah, NTB diharapkan mampu membangun ekosistem industri ayam terintegrasi—mulai dari hulu hingga hilir—yang mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.
“Saya mohon kerjasamanya untuk memastikan lahan, bahan baku, dan jalur logistik. Semua in


















