investigasiindonesia.com – Kinerja ekspor Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Oktober 2025 menandai babak baru arah ekonomi daerah itu. Bukan hanya mencatat nilai ekspor mencapai USD 135,56 juta, tetapi juga menunjukkan bahwa struktur ekspor NTB kini semakin bertumpu pada produk bernilai tambah tinggi, bukan lagi pada konsentrat tambang mentah.
Dua komoditas hilirisasi menjadi motor utama penguatan ekspor non-tambang NTB. Tembaga hasil smelter menempati posisi teratas dengan nilai USD 77,79 juta atau 57,38 persen dari total ekspor. Meski berasal dari sektor pertambangan, produk ini diklasifikasikan sebagai non-tambang karena sudah diolah melalui proses pemurnian. Produk tersebut dikirim ke Tiongkok, Thailand, dan Malaysia melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Komoditas kedua yang mendongkrak kinerja ekspor adalah perhiasan dan permata, terutama emas dan mutiara. Kelompok ini menyumbang USD 56,91 juta atau 41,98 persen dari total ekspor NTB. Perhiasan NTB kembali diminati pasar internasional, dengan Swiss sebagai negara tujuan terbesar. Pengiriman dilakukan melalui Bandara Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai.
“Selain dua komoditas utama itu, sektor perikanan dan produk tambang non-logam juga berkontribusi terhadap ekspor Oktober,” ujar Kepala BPS NTB Wahyudin, Senin (1/12).
Komoditas perikanan seperti ikan dan udang tercatat menyumbang USD 226.026, sementara produk garam, belerang, dan kapur—khususnya batu apung—mencapai USD 224.983. Ada pula ekspor cangkang moluska senilai USD 110.711 yang dikirim ke Tiongkok.
Secara kumulatif, ekspor non-tambang NTB dari Januari hingga Oktober 2025 telah mencapai USD 735,96 juta, melonjak 1.722,31 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa perekonomian NTB mulai menopang diri melalui sektor hilirisasi dan produk manufaktur.
Meski secara total ekspor NTB masih turun 69,62 persen akibat belum tercatatnya pengiriman konsentrat tambang yang biasanya mendominasi, struktur ekspor Oktober menunjukkan tren yang semakin sehat.
“Dominasi ekspor hasil hilirisasi ini menggambarkan NTB mulai fokus pada nilai tambah produk, bukan hanya mengandalkan komoditas mentah,” tegas Wahyudin.


















