investigasiindonesia.com – Laporan terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengungkap sisi lain dari maraknya bencana di wilayah tersebut yakni rapuhnya infrastruktur dasar yang memperburuk dampak bagi masyarakat. Sepanjang 1 Januari hingga 30 November 2025, total 186 kejadian bencana tercatat di NTB, didominasi bencana alam.
Kepala Pelaksana BPBD NTB, Ahmadi, mengatakan bahwa tingginya angka banjir dan cuaca ekstrem menggambarkan betapa rentannya kualitas infrastruktur di sejumlah daerah. “Banjir mendominasi dengan 86 kejadian, disusul cuaca ekstrem 55 kejadian. Ini menunjukkan pentingnya penguatan infrastruktur pengendali banjir dan mitigasi cuaca ekstrem,” ujarnya, Senin (1/12).
Selain banjir, NTB juga mengalami 14 kejadian tanah longsor, 2 gempa bumi, 2 gelombang pasang–abrasi, dan kekeringan yang melanda 9 kabupaten. Sementara itu, bencana non-alam seperti kebakaran permukiman mencapai 12 kasus, serta dua epidemi yang turut mengganggu stabilitas sosial masyarakat.
Infrastruktur Dasar Paling Terdampak
Rentetan bencana sepanjang tahun ini memicu kerusakan signifikan, terutama pada fasilitas publik dan jaringan vital. BPBD mencatat kerusakan pada:
78 fasilitas pendidikan
7 fasilitas kesehatan
19 rumah ibadah
31 perkantoran
21 jembatan
84 meter jalan
305 meter tanggul
547 meter jaringan irigasi
9 jaringan listrik dan 8 jaringan komunikasi
“Kerusakan infrastruktur ini memengaruhi aktivitas masyarakat hingga ke sektor ekonomi,” jelas Ahmadi.
Dampak Sosial Meluas, Ribuan Rumah Terendam
Tercatat 685 rumah rusak dan lebih dari 41 ribu rumah terendam banjir. Dari sisi korban, 16 orang meninggal dunia, 39 luka-luka, dan 5 warga masih dalam pencarian. Sementara itu, lebih dari 158 ribu jiwa terdampak langsung akibat intensitas bencana tahun ini.
Kerusakan pada lahan produktif juga cukup masif:
921 hektare sawah,
177 hektare tambak,
50 hektare kebun,
46 hektare hutan,
yang berdampak pada penurunan pendapatan warga.
Pemprov Soroti Kesiapsiagaan Daerah
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyatakan bahwa meningkatnya bencana tahun ini harus menjadi peringatan serius terhadap kapasitas daerah dalam menghadapi situasi ekstrem. “NTB merupakan wilayah rawan bencana. Kita harus memperkuat sistem peringatan dini, koordinasi lintas sektor, dan peran aktif masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi dan peningkatan kemampuan SDM melalui pelatihan serta simulasi kebencanaan menjadi kunci mengurangi risiko di masa depan.
BPBD Imbau Warga Tingkatkan Kewaspadaan
Ahmadi mengingatkan masyarakat untuk memantau informasi cuaca dari BPBD dan BMKG. “Ini penting untuk mengantisipasi kerugian lebih besar. Tetap waspada, jaga kesehatan, dan pastikan


















