investigasiindonesia.com – Masalah sampah di kawasan wisata Tiga Gili, khususnya Gili Trawangan, kini tak lagi sekadar isu lingkungan. Lonjakan produksi sampah yang mencapai rata-rata 18 ton per hari dinilai berpotensi menggerus reputasi pariwisata NTB, terutama menjelang puncak kunjungan wisatawan.
Kondisi tersebut menjadi sorotan serius Komisi II DPRD NTB saat melakukan kunjungan kerja ke Gili Trawangan pada Jumat–Sabtu (9–10/1). Di lapangan, anggota dewan menemukan tumpukan sampah yang belum tertangani secara optimal, meski kawasan itu merupakan salah satu destinasi unggulan NTB.
Ketua Komisi II DPRD NTB, Lalu Pelita Putra, menyampaikan bahwa ketimpangan antara volume sampah dan kapasitas pengolahan menjadi persoalan mendasar. Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum (PU) belum mampu bekerja maksimal. Mesin insinerator yang tersedia hanya mampu mengolah sekitar 5–10 ton sampah per hari, jauh di bawah jumlah sampah yang dihasilkan.
“Situasi ini tentu berisiko bagi citra pariwisata. Sampah yang menumpuk jelas mengganggu kenyamanan wisatawan,” ujar Pelita, Minggu (11/1).
Ia menilai, jika tidak ada langkah cepat dan terukur, persoalan sampah bisa menjadi catatan buruk bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara yang selama ini mendominasi kunjungan ke Gili Trawangan. DPRD pun mendorong Pemerintah Provinsi NTB melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) untuk memperkuat dukungan sarana dan prasarana pengelolaan sampah di kawasan tersebut.
Salah satu solusi yang didorong adalah pengadaan mesin mixer guna mencacah tumpukan sampah yang belum terolah. Selain itu, opsi pengangkutan sebagian sampah ke daratan dinilai perlu dipertimbangkan sebagai langkah darurat.
Anggota Komisi II DPRD NTB, Salman Alfarizi, menambahkan bahwa persoalan sampah tidak hanya terjadi di Gili Trawangan, tetapi juga di Gili Meno dan Gili Air. Karena itu, ia meminta adanya kolaborasi erat antara Pemprov NTB dan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara dalam penanganannya.
Menurut Salman, tumpukan sampah tidak hanya merusak estetika pariwisata, tetapi juga berpotensi mencemari laut, mengganggu kesehatan, serta merusak ekosistem flora dan fauna di kawasan gili. “Ini bukan hanya soal kebersihan, tapi soal menjaga kepercayaan wisatawan terhadap pariwisata NTB,” tegasnya.
Dengan status Tiga Gili sebagai etalase pariwisata NTB, DPRD menilai penanganan sampah harus menjadi prioritas utama agar daya tarik destinasi tetap terjaga dan kunjungan wisatawan tidak terganggu.


















