investigasiindonesia.com — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) kian serius menuntaskan kemiskinan ekstrem dengan mengandalkan pendekatan berbasis desa. Tren penurunan angka kemiskinan menjadi pijakan optimistis bagi daerah ini untuk mempercepat capaian tersebut.
Berdasarkan data September 2025, persentase penduduk miskin di NTB tercatat sebesar 11,38 persen. Angka ini menunjukkan penurunan 0,40 persen dibandingkan Maret 2025 dan turun 0,53 persen poin dibandingkan September 2024. Capaian tersebut dinilai sebagai sinyal positif efektivitas berbagai kebijakan pengentasan kemiskinan yang telah berjalan.
Sebagai langkah lanjutan, Pemprov NTB mengandalkan Program Desa Berdaya Transformatif sebagai motor utama penghapusan kemiskinan ekstrem. Program ini dirancang tidak hanya berorientasi pada bantuan, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat agar mampu mandiri secara ekonomi.
Kepala Bappeda NTB, Baiq Nelly Yuniarti, menjelaskan bahwa saat ini program tersebut tengah memasuki tahap penataan sasaran dan pemantapan data. “Untuk Desa Berdaya yang sasarannya KK miskin ekstrem sedang ditata. Kalau untuk yang desa, insya Allah sudah jalan. Tinggal menunggu feedback dari masing-masing kepala desa,” ujarnya.
Pemprov NTB menargetkan sebanyak 7.250 kepala keluarga miskin ekstrem sebagai sasaran program. Namun, Nelly menegaskan bahwa tidak semua keluarga miskin ekstrem dapat langsung diintervensi melalui pendekatan ekonomi, sehingga diperlukan strategi yang lebih komprehensif sesuai kondisi masing-masing keluarga.


















